“Barang-barang yang sungguh-sungguh baik”

Kardinal Peter Turkson, presiden Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Kedamaian (the Pontifical Council for Justice and Peace), berbicara tentang aspek moral bisnis di kampus IESE Barcelona.

Kabar Lain
Opus Dei - “Barang-barang yang sungguh-sungguh baik” (dari kiri ke kanan): Jose Mª Simone, Kardenal Peter Turkson, Luis H. de Larramendi dan Domènec Melé

Kardinal Peter Turkson, presiden Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Kedamaian, mengunjungi kampus IESE Barcelona pada 23 April untuk mempresentasikan buku The Vocation of the Business Leader: A Reflection. Pertama kali disusun pada 2012, buku ini telah diperbarui dengan memuat beberapa kutipan dari Paus Fransiskus.

Dokumen ini (tersedia dalam format pdf di sini) adalah sumber acuan yang praktis untuk para pebisnis, yang menurut Kardinal Turkson, ”memperluas pemahaman konsep bisnis sebagai 'panggilan mulia' – sebagaimana juga dinyatakan oleh Paus Fransiskus di Davos pada 2014 – untuk memenuhi kebutuhan dunia dengan barang-barang yang sungguh-sungguh baik, dan layanan-layanan yang sungguh-sungguh melayani.”

Kardinal Turkson dalam kesempatan ini berbicara pada 4th International Colloquium on Christian Humanism in Economics and Business, yang dimoderatori oleh Profesor etika bisnis IESE, Domenec Mele. Bersama dengan beliau juga yaitu Jose Maria Simone, presiden International Christian Union of Business Executives (UNIAPAC) dan Luis H. de Larramendi, presiden Accion Social Empresarial (Aksi Sosial dalam Bisnis).

Waktu untuk Memikirkan, Merefleksikan, dan Merencanakan

Daripada menampilkan suatu “kumpulan panduan yang minimalis atau negatif,” tujuan buku The Vocation of the Business Leader, adalah untuk “membantu pembangunan model untuk bertindak,” kata Larramendi.

“Dokumen ini bukanlah dimaksudkan untuk menegur para pebisnis atau memberi label buruk pada kebijakan efisiensi. Buku ini bukan pula suatu kumpulan cara untuk menghilangkan setiap keraguan. Ini adalah panduan untuk membantu para pebisnis Kristiani meningkatkan diri mereka dan juga untuk membantu membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.”

Krisis finansial selama beberapa tahun terakhir ini telah meningkatkan tekanan pada para pemimpin bisnis untuk mencari keuntungan, katanya. Sementara itu, meningkatnya kecepatan pemberian informasi dan komunikasi telah membawa ”dampak negatif” dalam hal ketersediaan waktu untuk memikirkan, merefleksikan, dan merencanakan.

“Ada kebutuhan untuk memadukan logika pasar dengan logika anugerah. Anugerah berupa bakat, pendidikan, dan dukungan yang telah diberikan Tuhan sepatutnya dipandang sebagai anugerah untuk dibagikan, bukan sebagai milik pribadi saja,” tambah Kardinal Turkson.

Beliau kemudian berbicara mengenai “diri yang terbagi” – suatu kecenderungan untuk membagi dan memisahkan sikap dan perilaku dari nilai-nilai atau iman pribadi.

“Iman tidaklah seperti mengoleskan selai jeruk ke roti panggang – sesuatu untuk ditambahkan atau dihilangkan untuk menyesuaikan selera Anda,” kata Kardinal Turkson. “Hal itu seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup.”

“Dengan cara inilah para pebisnis mengatasi sinisme dan ketakutan yang timbul dari diri yang terbagi melalui iman; dengan maksud untuk mengatasi rintangan dan membawa harapan dan terang.”


Mendefinisikan kembali arti “Sukses”

The Vocation of the Business Leader juga dimaksudkan untuk memperluas definisi sukses melebihi hal-hal moneter dan mencakup konsep-konsep seperti “martabat manusia dan kebaikan yang lebih dari hal-hal yang terkait kepentingan pribadi,” kata José Maria Simone.

“Kita para pelaku bisnis memiliki metode-metode yang sangat baik untuk mengukur nilai moneter dari pekerjaan, tetapi kita masih belum memiliki cara-cara untuk sepenuhnya mengukur seluruh kelebihannya. Ambillah contoh seorang pekerja yang mengalami kepenuhan melalui pekerjaannya – apa lagi yang lebih layak daripada itu?” beliau bertanya.

“Salah satu dari semua tugas pemimpin bisnis adalah menciptakan lapangan kerja bagi orang lain dan memberikan kepada para pekerja kesempatan untuk bertumbuh,” kata Simone. ”Cara terbaik untuk menciptakan nilai tambah adalah untuk memandang orang bukan sebagai alat melainkan sebagai tujuan dalam diri mereka sendiri.”

Menanggapi pertanyaan tentang bagaimana keuntungan bisnis seharusnya dibagikan, Simone menambahkan: “Keuntungan itu penting, tetapi bagaimana seharusnya hal-hal tersebut digunakan? Semua pemangku kepentingan dalam bisnis harus menjadi penerima manfaatnya: pemilik, karyawan, pemegang saham…”

Kardinal Turkson menutup diskusi dengan mengajak para pembaca untuk tidak melihat buku The Vocation of the Business Leader sebagai karya yang telah selesai tetapi sebagai “karya yang sedang dikerjakan.” Beliau terbuka terhadap masukan-masukan dari komunitas bisnis: “Para pelaku bisnis baik pria dan wanita yang membaca buku ini perlu merasa bebas untuk berbagi komentar dengan Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Kedamaian.”