Ber-Aksi Natal di Dinoyo

Sebuah acara Natal yang singkat dan sederhana, tetapi telah membuat kami merasa bahagia dapat meluangkan sedikit waktu dan tenaga untuk merayakan Natal bersama adik-adik kecil di Dinoyo.

Karya Sosial

Minggu, 18 Desember 2011, jam 15:30 WIB. Ketika beberapa mahasiswi dan pekerja muda mulai berdatangan di Darmaria, center Opus Dei untuk wanita di jalan WR Supratman, titik-titik gerimis mulai menetes turun dan akhirnya diikuti oleh hujan berirama sedang. Walaupun kami tiba di tempat berkumpul terhindar dari hujan, kami semua bertanya-tanya apakah aksi Natal di Dinoyo nanti dapat dilaksanakan. Sembari berdoa agar hujan lekas reda, kami mulai mengangkut bingkisan-bingkisan Natal dan bebebapa hadiah ke dalam mobil. Rini, ‘koordinator’ kami di Dinoyo dihubungi dan ia mengusulkan agar acaranya dipindahkan dari ruang terbuka di salah satu gang Dinoyo ke sebuah sekolah di dekatnya. Hal ini disepakati dengan gembira dan kami ber-13 mulai bergerak ke arah Dinoyo. 

Doa kami dikabulkan dan hujan berhenti total ketika kami tiba di mulut gang Dinoyo Sekolahan. Dengan kantong atau kardus bingkisan di tangan, kami berjalan kaki memasuki seluk beluk gang Dinoyo sampai tiba di sekolah yang dituju. Di sana, kami sudah ditunggu oleh sekitar 30 anak berusia balita hingga 10 tahun. Beberapa di antara mereka adalah anak-anak yang mengikuti kelas katekese di Darmaria setiap Jumat sore.

Esty, mahasiswi tingkat akhir psikologi di Widya Mandala, memimpin acara dengan perkenalan dan lagu-lagu. Beberapa anak diminta untuk maju ke depan untuk menyanyi berbagai lagu dengan gerakan-gerakan lucu. Kemudian, Jane dan Corry, keduanya adalah guru katekese, mengambil alih acara dengan permainan-permainan. Untuk permainan pertama, beberapa anak dipilih dan diminta untuk berakting dengan memperagakan berbagai raut wajah seperti menangis, tertawa, sedih, dll. Pemenangnya adalah mereka yang mendapatkan tepuk tangan terbanyak. Berikutnya adalah permainan yang menguji lidah karena anak-anak harus menyebutkan angka-angka diikuti oleh kata ‘biru’ (“satu biru, dua biru, tiga biru, ...”). Kami tidak dapat menahan tawa ketika mendengar beberapa anak ‘terpeleset’ dan menyebut ‘sepuluh ribu’, atau mendengar mereka yang masih ‘cadel’ berkata, ‘satu bilu, dua bilu, ...’

Di akhir acara, kami membagi-bagikan bingkisan Natal kepada mereka yang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti acara Natal ini. Terdapat dua jenis bingkisan, yang disumbangkan oleh dua ibu dermawan. Yang satu adalah sebuah tas kecil  berisi alat tulis, dan yang satu lagi adalah bingkisan plastik berisi makanan ringan. Mereka dipanggil satu per satu, diberi stempel di balik telapak tangan, dan menerima bingkisannya. Anak-anak yang masih bayi menerima bingkisan berupa pampers dan susu. 

Pukul 17:30, kami  menelusuri gang Dinoyo untuk kembali ke mobil. Sebuah acara Natal yang singkat dan sederhana, tetapi telah membuat kami merasa bahagia dapat meluangkan sedikit waktu dan tenaga untuk merayakan Natal bersama adik-adik kecil di Dinoyo. Sampai jumpa di lain kesempatan!