Homili Perayaan Dies Natalis Santo Josemaria di Jakarta

Homili Romo Jose Luis Mariblanca, Sekretaris Kedutaan Vatikan di Jakarta, dalam Misa Perayaan Dies Natalis Santo Josemaria Escriva pada tanggal 22 Juni 2013 di Kapel Kedutaan Vatikan

Dari Prelatur Opus Dei

Para Romo, saudara, saudari yang terkasih: kita merayakan bersama kemuliaan Tuhan yang memancar dalam diri salah satu putra-Nya yang terbaik, Santo Josemaria Escriva Balaguer, pendiri Opus Dei.  Mengikuti tradisi dari awal, Gereja merayakan hari wafat para orang kudus, namun menamakan hari itu: Dies natalis , hari lahir. Pada tanggal 26 Juni 1975 Josemaria Escriva meninggalkan dunia ini; pada hari itu juga ia dilahirkan di Surga. Inilah yang kita rayakan hari ini bergabung dengan seluruh Gereja yang bersukacita atas salah satu putranya. Kemuliaan surgawi.

Melalui misteri Persekutuan para Kudus, sekarang di atas bumi, kita telah dianugerahi gambaran dari kemuliaan di surga. Persekutuan para Kudus, persatuan antara para kudus di surga dan kita semua di bumi, adalah persekutuan dalam doa dan teladan. Persekutuan dalam doa, karena mereka adalah perantara kita dihadapan Tuhan Yesus. Persekutuan dalam teladan, karena kita dapat belajar dari hidup para orang kudus, supaya kita dapat hidup sesuai dengan panggilan Tuhan bagi kita.

Dalam doa-doa liturgi hari ini, kita menemukan ringkasan dari beberapa ajaran dan teladan Santo Josemaria yang terpenting:  Panggilan universal menuju kesucian yang tersirat dalam Doa Pembukaan; pekerjaan manusia yang harus disucikan dalam Bacaan pertama; keputraan ilahi dalam Bacaan kedua, dan yang terakhir, panggilan untuk karya kerasulan dalam Bacaan Injil.

Namun, dalam homily ini, saya tidak akan membahas pokok-pokok tersebut. Saya hanya ingin membahas satu pokok lain yang mencakup semua itu, yakni iman, kehidupan iman. Dalam Gereja kita merayakan Tahun Iman. Dan kita semua berhasrat, seperti kata St Josemaria, melayani Gereja ‘fidelisimamente’ dengan penuh kesetiaan ( Jalan no. 519). Oleh karena itu, saya rasa, pada hari perayaan ini, St Josemaria menginginkan kita merenungkan tentang iman: merenungkan iman melalui teladan kehidupan imannya, supaya kita dapat meniru teladan hidupnya dan tumbuh dalam iman kita melalui teladan dan perantaraannya.

Dalam hidup St Josemaria, ada suatu peristiwa yang saya ingat. Peristiwa ini terjadi di musim dingin, kemungkinan pada hari-hari pertama tahun 1918, ketika St Josemaria belum mencapai umur 16 tahun; masih seorang remaja. Pada waktu itu hujan salju turun dengan lebat di Logrono, kota tempat tinggalnya. Kota itu tertutup oleh mantel salju putih. Pada suatu pagi yang amat dingin, Josemaria menengok keluar dari jendela rumahnya dan melihat jejak-jejak kaki telanjang di atas salju. Tak lama kemudian dia mengetahui bahwa itu adalah jejak-jejak kaki salah seorang dari frater Karmel yang baru saja tiba di kota itu. Dan dia berpikir: ‘jika seseorang mampu membuat pengurbanan seperti itu demi Tuhan, dapatkah aku mempersembahkan sesuatu kepada-Nya? ‘

Peristiwa ini menjadi titik tolak dari sesuatu yang baru bagi Josemaria. Ia merasakan untuk pertama kalinya apa yang ia sebut, ‘barruntos’, sentuhan dari Tuhan, yang menghendaki sesuatu darinya. Kehendak Tuhan masih tersembunyi baginya pada waktu itu.Namun, Josemaria mampu melihat sesuatu dibalik jejak kaki di salju itu. Dan inilah yang sangat mengesankan bagi saya. Yang membuat kagum bukanlah jejak-jejak kaki itu sendiri, melainkan mata seseorang, yang dengan melihatnya, dapat dengan segera memahami pertanda dari Tuhan, mata yang mampu memandang lebih jauh, melampaui kenyataan biasa, dan melihat rencana Tuhan.

Dan itulah yang dinamakan iman. Omnia quasi oculo Dei intuemur , adalah suatu definisi iman yang indah oleh Santo Thomas dari Aquinas, seorang teolog yang besar: melihat semuanya dengan mata Tuhan. Melihat semua sebagaimana Tuhan melihatnya; melihat semua dan menemukan Tuhan dalam semuanya, juga dalam jejak-jejak kaki di salju.

Apabila kita membaca homili St Josemaria yang berjudul ‘ Living by Faith’ (Hidup dari Iman), pada awal homili itu kita membaca pembicaraannya tentang dua orang buta: orang buta dari lahir di kolam Siloam, dan Bartimeus di jalanan dekat Yeriko. Keduanya adalah orang yang buta dan dua-duanya dapat melihat lagi. Ini untuk mengajar kita tentang apa itu iman. St Josemaria mengatakan: kita harus berusaha agar kita memiliki tolak ukur ilahi untuk segalanya, dan jangan kehilangan pandangan adikodrati (Friends of God, no. 194)

Tolak ukur ilahi

, pandangan adikodrati , kemampuan melihat segalanya dengan mata iman:  inilah perlajaran dari St Josemaria, dan mari kita memohon perantaraannya untuk memperoleh bagi kita tolak ukur ilahi ini. Bagi St Josemaria, iman adalah penglihatan baru yang dianugerahkan dan yang menggantikan kebutaan kita, terang baru bagi kegelapan kita. Pancarkanlah cahaya imanmu , kata St Josemaria dalam poin pertama buku Jalan. Iman adalah cahaya untuk melihat apa yang tersembunyi, untuk melihat lebih jauh, dan dengan pandangan adikodrati itu menemukan tangan Tuhan di setiap saat dalam hidup kita.

Kita dapat menarik dua pelajaran penting dalam merenungkan pandangan adikodrati dalam hidup St Josemaria. Yang pertama, yang paling penting: bahwa iman adalah karunia Allah. Tidak ada seorangpun yang dapat membuatnya sendiri, karena ini tidak akan menjadi iman yang sejati, dan bukan iman yang bersifat adikodrati, melainkan kepercayaan manusiawi belaka. Bahkan tak seorangpun dapat menganggap dirinya berhak memiliki iman, seolah-olah Tuhan berkewajiban menganugerahkan iman padanya. Tidak, iman adalah karunia. Kita tidak pantas menerimanya dan oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk memilikinyan, dan tumbuh didalamnya adalah memohon iman kepada Tuhan dan berdoa tanpa henti. Josemaria yang waktu itu masih muda, mengulang-ulang doa Bartimeus, orang buta dari Yeriko: Domine ut videam! Tuhan, semoga aku melihat! Josemaria tidak melihat dengan jelas, tetapi dia tahu bahwa untuk melihat lebih jauh, pertama-tama ia harus berdoa lebih banyak. Dia tahu bahwa iman adalah karunia.

Dalam surat Porta Fidei ( Pintu kepada Iman) untuk Tahun Iman, Paus Benediktus menulis:’ iman tidak dapat dianggap ada begitu saja’ (bdk. Porta Fidei, no. 2). Dan setiap hari kita bertemu dengan begitu banyak orang Katolik dengan anggapan ini. Mereka meremehkan iman. Mereka tidak memperhatikan pembinaan iman Katolik, mereka mengabaikan kehidupan doa; dan menjadi buta karena berpikir bahwa karena mereka sudah menjadi orang Katolik, maka mereka sudah memiliki iman.  Dan sedikit demi sedikit mereka mengambil kriteria duniawi, cara pandang duniawi sebagai pengganti ajaran Gereja. Dengan demikian, makin banyak aspek hidup mereka –pekerjaan, persahabatan dan keluarga-yang sedikit demi sedikit jatuh dalam kegelapan, karena mereka kehilangan kemampuan untuk melihat semua itu dengan mata Tuhan, dengan pandangan adikodrati.

Doa St Josemaria , Domine ut videam , menunjukkan kepada kita semua betapa besar kebutuhan kita untuk terus bertahan dalam doa, betapa besar kebutuhan kita untuk menerima terang itu, supaya iman kita teguh. Supaya cahaya iman kita semakin terang dan dapat menerangi, pertama-tama, seluruh jiwa kita, dan kemudian seluruh sudut kehidupan keluarga, sosial dan profesional. St Josemaria berkata bahwa karya kerasulan, apapun jenisnya, adalah  kehidupan rohani  yang melimpah ruah ( Friends of God, no, 239).  Hanya jika kita berusaha mempertahankan cahaya iman kita hidup dan menyala, baru kita mampu memancarkannya kepada sesama.

Pelajaran yang kedua adalah: iman membutuhkan pencobaan. Iman perlu dicoba dalam kegelapan, ketika kita tidak dapat melihat dengan jelas, ketika kita tidak mengerti. Iman bahkan perlu diuji dengan kesedihan dan penderitaan supaya dimurnikan. Ada salah satu metafora yang sering digunakan oleh St Josemaria untuk menjelaskan bagaimana Tuhan memurnikan dirinya sepanjang hidupnya. Suatu metafora yang diambil dari peternakan: memasang sepatu kuda. Satu pukulan pada paku, seratus pada sepatu, St Josemaria sering mengulang untuk menjelaskan bagaimana Tuhan, untuk memurnikan dirinya, dengan palu sekali memukul dirinya dan 99 kali memukul orang-orang yang terdekat. Ketika dia masih muda dia mengalami kematian dua orang adiknya yang masih muda dan kemudian ayahnya;  ia mengalami kemiskinan datang menimpa keluarganya; dia menderita banyak kesulitan dan kesalahpahaman akan karyanya  kadangkala tidak saja dari luar Gereja, tetapi bahkan dari dalam. Tetapi ia selalu hidup dengan tolak ukur ilahi: dia tidak pernah mengeluh, bahkan menganggap kesulitan-kesulitan itu sebagai satu pukulan palu pada paku dan seratus pada sepatu . Dia mampu melihat pencobaan-pencobaan itu dengan cara pandang adikodrati, dengan terang iman, dan lebih lagi, dia melihat pencobaan-pencobaan itu sebagai sesuatu yang harus dialami untuk memurnikan dirinya dan memurnikan karya yang baru lahir, Opus Dei, sehingga dari awal mulanya karya itu bukan karyanya tetapi karya Tuhan.

Dalam perayaan Ekaristi ini, mari kita mempercayakan intensi kita pada perantaraan St Josemaria. Semoga Tuhan yang mahabaik berkenan menganugerahkan kepada kita iman yang teguh, yang dapat melihat semua yang terjadi dengan mata Tuhan. Semoga kita tidak pernah meremehkan iman kita, dan tak henti-hentinya memohon kekuatan iman dari Tuhan serta berkomitmen untuk mempertahankan iman kita dengan setia mengikuti ajaran-ajaran Bunda Gereja.  Dengan syukur kepada Tuhan atas hidup dan karya St Josemaria, mari kita berdoa bagi para anggota Opus Dei di seluruh dunia dan teristimewa di negara ini. Amin

  • Romo Jose Luis Mariblanca